Cerita Kami

This slideshow requires JavaScript.

Proyek Malin merupakan inisiatif dari sekumpulan pelajar Indonesia di Singapura yang ingin berkontribusi balik ke kampung halamannya, Indonesia, terutama di bidang pendidikan. Dengan mengadakan kunjungan ke berbagai sekolah dasar dalam kategori sosio-ekonomi rendah di Jakarta dan Surabaya, tim Proyek Malin menemukan beragam permasalahan yang ada dalam proses kegiatan belajar-mengajar.

Namun, terdapat sebuah permasalahan mendasar yang dapat ditemukan di setiap sekolah yaitu pola pikir murid yang menganggap sekolah itu tidak penting dan hanya sebuah formalitas belaka.

Oleh karenanya, lahirlah Proyek Malin. Dengan menggerakan pelajar Indonesia di luar negeri untuk mejadi relawan dan kembali ke daerah asalnya, Proyek Malin ingin menanamkan pola pikir kepada murid-murid dalam kategori sosio-ekonomi rendah bahwa sekolah itu penting dan belajar tidak berhenti di sekolah.

Kenapa Malin

Nama Proyek Malin diadopsi dari cerita rakyat Malin Kundang yang mengisahkan seorang anak yang merantau ke negeri orang. Setelah mencapai kesuksesan, Malin menjadi seorang yang durhaka dan lupa terhadap ibunya. Moral dari cerita ini adalah untuk tidak melupakan orang tua dan asal muasal diri masing-masing.

Sebagai pelajar yang sedang bersekolah di negeri orang, kami mempunyai kedekatan tersendiri dengan cerita rakyat tersebut.Kami merasa seperti Malin dalam cerita hidup kami masing-masing.

Akan tetapi, kami ingin belajar dari kesalahan yang Malin lakukan dan tidak melupakan tanah air serta segala permasalahan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, nama Proyek Malin adalah sebuah manifestasi tekad kami untuk ambil peran dalam memajukan bangsa Indonesia, terutama di dunia pendidikan.

Keunikan Kami

  1. Proyek Malin mengajak pelajar Indonesia di luar negeri untuk berkontribusi balik ke kampung halaman masing-masing pada masa  Dengan berfokus ke kota asal masing-masing, kami dapat memotong biaya akomodasi relawan dan memfokuskan semua sumber daya ke dalam pengembangan program kegiatan serta memungkinkan semua pelajar untuk menjadi relawan dengan biaya yang rendah.
  2. Proyek Malin menekankan perubahan pola pikir murid-murid usia sekolah dasar. Kami berfokus dalam merancang kegiatan yang dapat mengembangkan karakter, soft & hard skills, serta pola pikir murid-murid mitra sekolah dasar kami. Pengembangan infrastuktur merupakan priotritas kedua bagi Proyek Malin.
  3. Proyek Malin bertekad untuk menciptakan kegiatan yang berkelanjutan dengan cara bekerjasama dengan aktor-aktor lokal seperti  “teladan” setempat dan/ organisai sosial lokal, yang dapat melanjutkan kegiatan Proyek Malin setelah tim pergi. Selain itu, kami juga berkomitmen untuk terus kembali ke sekolah-sekolah dasar tersebut sampai tercapainya kemajuan nyata yang dapat terukur.

*Teladan adalah tokoh setempat yang memiliki visi-misi yang serupa dengan Proyek Malin (guru/kepala sekolah)